Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teladan Stefanus Dalam Melepaskan Pengampunan

Kisah Para Rasul 7:59-60 (TB)  Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.

Stefanus adalah salah seorang dari 7 diaken pilihan yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 6:3-6. Stefanus kemudian menjadi seorang pemberita Injil. Alkitab menyatakan bahwa Stefanus seorang yang penuh iman dan Roh Kudus. Hal ini dibuktikan dengan keberaniannya menghadapi tantangan hingga meninggal sebagai martir.

Kisah kematian Stefanus merupakan kisah Martin yang pertama. Yang menarik dari kisah ini adalah doanya kepada Tuhan untuk orang-orang yang menganiaya dia. Dalam doa yang Stefanud ucapkan terkandung dua unsur yang sangat penting.

Pertama adalah penyerahan diri kepada Tuhan. Stefanus berkata "ya Tuhan Yesus terimalah rohku". Perkataan itu menunjukkan bahwa dia siap untuk mati sekalipun tubuhnya hancur karena batu-batu yang dilemparkan kepadanya. Stefanus tetap percaya bahwa rohnya adalah milik Tuhan, karena itu dengan penuh iman Stefanus menyerahkan rohnya kepada Tuhan.

Unsur penting yang kedua dari doa yang diserukan oleh Stefanus adalah pengampunan bagi musuh. Menghilangkan nyawa orang lain adalah kekejian di mata Tuhan karena tidak ada seorangpun manusia yang berhak untuk menghilangkan nyawa sesamanya. 

Para anggota Mahkamah Agama yang tahu hukum dan firman Tuhan justru melakukan tindakan penganiayaan terhadap Stefanus. Mereka melempar dengan batu yang menyebabkan kematian Stefanus. Meski demikian saudara Stefanus menunjukkan sikap yang mulia.

Dalam kondisi teraniaya dan sedang meregang nyawa dia sempatkan berdoa untuk memohonkan pengampunan. Stefanus berkata "Tuhan janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka". Biasanya orang yang teraniaya atau orang yang tersakiti akan menyimpan rasa sakit rasa luka bahkan dendam kepada orang yang melakukannya. Tetapi Stefanus justru memintakan pengampunan kepada Tuhan.  

Ternyata melepaskan pengampunan dan tidak membalas kejahatan terhadap orang yang berbuat jahat terhadap kita adalah sebuah cara untuk menerima kasih karunia Allah yang sesungguhnya. Barang siapa mempertahankan nyawanya ia akan kehilangan nyawanya dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku karena Tuhan Yesus maka ia akan memperolehnya.

Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk melepaskan pengampunan seperti yang Stefanus lakukan. Ketika kita melepaskan pengampunan maka sebenarnya kita sedang mendapatkan kasih karunia dari Allah.

Doa Meresponi Firman Tuhan 

Terima kasih Tuhan Yesus, kami boleh belajar dari tokoh yang luar biasa yaitu Stefanus. Yang Tuhan izinkan menghadapi penganiayaan hingga menjadi seorang martir dia tetap mengasihi bahkan berdoa bagi keselamatan orang yang menganiayanya.

Terkadang begitu banyak orang yang mungkin pernah menyakiti kami melukai kami. Susah bagi kami untuk melepaskan pengampunan kepada mereka, tapi Stefanus memberikan teladan yang telah dia teladani dari Kristus ketika disalibkan dan mau belajar untuk melepaskan pengampunan.

Mungkin ada perkataan-perkataan yang telah menyakiti hati kami dari orang-orang terdekat kami bahkan keluarga kami bahkan gereja komunitas kami, mungkin juga kawan-kawan kerja kami dan orang-orang yang kami percayai. Bapa biarlah Tuhan engkau jamah hati kami supaya kami dengan tulus ikhlas dan sukacita melepaskan pengampunan bagi mereka.

Ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat, apa yang mereka perkatakan. Hari ini Tuhan biarlah pengampunan itu juga kami miliki dan kami alami. Biarlah Tuhan melihat kerinduan, ketulusan dan komitmen kami untuk mengampuni orang yang berbuat salah kepada kami. 

Terima kasih Tuhan Yesus Kristus yang terlebih dahulu telah mengampuni kami yang bersalah kepadaMu. Di dalam nama Kristus Yesus Tuhan juruselamat kami yang hidup, kami berdoa dan mengucap syukur kepada Bapa di Surga, Haleluya Aminnn

Posting Komentar untuk "Teladan Stefanus Dalam Melepaskan Pengampunan"